RED Hydrogen One Jadi Smartphone Pertama dan Terakhir dari Produsen Kamera Ternama

0
208
RED Hydrogen One

RED Hydrogen One merupakan salah satu smartphone yang bisa dibilang memiliki fitur yang paling unik yang ada di pasaran saat ini. Hal ini dikarenakan layarnya dapat menampilkan efek 3D tanpa harus menggunakan alat tambahan.

Begitu juga di sisi kamera, dimana kamera ini bisa dibilang memiliki kamera yang cukup mengesankan. Namun sayangnya, kita tidak akan lagi akan melihat penerus dari smartphone tersebut.

Dua tahun lalu, industri smartphone dunia dibuat terkejut oleh pengumuman bahwa RED sedang mengerjakan smartphone dengan display hologram. Setelah beberapa kali mengalami penundaan, ponsel tersebut akhirnya dirilis di bulan Oktober 2018 silam. Namun rupanya respon terhadapnya tidak sebagus yang dibayangkan.

Xiaomi Mi Note 10, Punya Lima Kamera Belakang. Salah Satunya Kamera 108MP

Latar belakang RED sebagai produsen kamera sinema kenamaan membuat banyak orang memasang ekspektasi tinggi terhadap kualitas kamera Hydrogen One. Namun kenyataannya Hydrogen One tidak menawarkan perbedaan kualitas yang begitu signifikan, dan pada tampilan hologram yang menjadi fitur andalannya juga terlihat hanya gimmicky.

Yang lebih mengejutkan lagi, dikutip dari The Verge, Hydrogen One rupanya bakal menjadi smartphone perdana sekaligus terakhir dari RED. Jim Jannard, pendiri RED yang telah berusia 70 tahun, saat ini memutuskan untuk tidak melanjutkan alias pensiun atas alasan kesehatan, dan bersamanya proyek Hydrogen juga sepenuhnya dihentikan.

Hal itu juga berarti kabar sebelumnya bahwa RED tengah menggarap ponsel keduanya otomatis batal. Amat sangat disayangkan dan cukup mengecewakan melihat RED tidak punya kesempatan lagi untuk menebus kesalahan pertamanya, apalagi mengingat ponsel keduanya sebenarnya disiapkan untuk fokus pada kualitas kamera, ketimbang menawarkan gimmick macam display hologram.

Sekarang hanya tinggal kenangan dan menjadi sejarah. Kegagalan pengembang teknologi ini bagi industri smartphone sejatinya semakin memperkuat fakta bahwa latar belakang dan reputasi saja tidak cukup dijadikan modal untuk bersaing dengan nama-nama yang sudah berpengalaman di bidang ini.