Google telah meluncurkan aplikasi Inbox sebagai aplikasi e-mail yang berdampingan dengan Gmail. Beberapa dari fitur di aplikasi Inbox sangat berbeda dengan Gmail. Beragam fiturnya yang berurusan dengan pihak ketiga berpotensi terjadi peretasan.

Setelah beroperasi selama empat tahun, Google akhirnya memustuskan untuk menghentikan layanan aplikasi Inbox.

Google terpaksa menutup aplikasi Inbox dikarenakan aplikasi pengirim e-mail tersebut semakin sepi pengguna.

Google nampaknya ingin fokus mengembangkan aplikasi pengiriman e-mail utamanya, yaitu Gmail.

Hal ini tentu sangat disayangkan bagi segelintir pengguna yang masih setia dengan Inbox, namun dapat dikatakan tidak begitu mengherankan bagi khalayak ramai.

Dilansir dari The Verge (13/9/2018), “empat tahun setelah meluncurkan Inbox 2014, kami telah belajar banyak tentang cara membuat e-mail yang lebih baik. Kami menambahkannya ke Gmail untuk membantu lebih dari satu miliar pengguna. Namun, kami harus menghentikan layanan ini,” ujar Google dalam keterangan resmi.

Sudah lama sekali Inbox tidak mendapat perhatian dari sang raksasa mesin pencari. Salah satu indikasinya, aplikasi ini sangat jarang diperbarui untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

Meski demikian, ada fitur-fitur ikonik yang menjadi andalan dari Inbox, di antaranya “Bundling” dan “Snoozing”.

Fitur Snoozing berfungsi untuk menghapus e-mail dan pengingat untuk sementara waktu, sedangkan Bundling untuk merapikan e-mail berdasarkan kategori.

Baru-baru ini Snoozing hadir di Gmail, walau hingga saat ini Bundling belum ikut dibawa. Gmail sendiri sudah memiliki fitur “Labels”, namun pengalaman penggunanya masih berbeda dengan Bundling.

Dilansir dari The Verge (14/9/2018), Google sesumbar akan segara membawa Bundling ke Gmail, agar penggunanya dapat tetap merasakan pengalaman bertukar e-mail serupa di Inbox. Belum jelas kapan jaji akan direalisasikan.

Keputusan Google fokus ke Gmail saja memang sudah terlihat sejak beberapa tahun yang lalu. Pembaruan pada Gmail dilakukan secara berkala, baik dari sisi fitur, desain, dan kinerja keseluruhan.

Belum lama ini, tepatnya bulan April lalu, Gmail kembali melakukan pembaruan secara signifikan. Desain antarmukanya benar-benar berubah dan memudahkan pengguna mengorganisir e-mail.

Sebelumnya, pihak Gmail sudah memberi notifikasi kepada pengguna Inbox untuk beralih menggunakan Gmail.

Google juga sudah membuat panduan transisi untuk membantu pengguna Inbox beralih ke Gmail dengan mudah.

Website Venturebeat melaporkan, layanan Inbox by Gmail akan dihentikan pada akhir Maret 2019. Kabarnya, pengguna yang mencoba mengakses Inbox setelah bulan Maret akan dialihkan ke Gmail. (RH)