Data yang dihasilkan dari McKinsey Global Institute menjelaskan, teknologi Artificial Intelligence (AI) dianggap dapat menyumbangkan 1,2 persen groos domestic product (GDP) tahunan, bahkan untuk 10 tahun berikutnya.

Dilansir dari CNBC (6/9/2018), dijelaskan McKinsey dalam sebuah laporan teknologi AI bisa memberikan USD13 triliun untuk pasar ekonomi global pada 2030.

Hal ini menempatkan kontribusi AI terhadap sebuah pertumbuhan yang setara dengan pengenalan teknologi transformatif lainnya seperti mesin uap.

McKinsey juga memperkirakan 70 persen perusahaan akan mengadopsi AI di 2030 dan sebagian besar perusahaan besar akan menggunakan berbagai teknologi di berbagai sektor.

AI sendiri menggunakan data besar dan algoritma untuk meniru perilaku manusia. Dua perekonomian terbesar di dunia, Tiongkok dan Amerika Serikat, sedang berlomba berinvestasi dalam teknologi.

Misalnya di Beijing, AI sudah menjadi bagian dari rencana lima tahun yang berjalan hingga 2020 dan ingin menjadi pemimpin dalam penggunaan teknologi di tahun 2030.

“Tanpa AI, Tiongkok mungkin menghadapi tantangan untuk mencapai tingkat pertumbuhan targetnya,” ujar Jeongmin Seong, salah satu penulis laporan dalam wawancara dengan CNBC.

Dia juga mencatat bahwa produktivitas tenaga kerja di Tiongkok sudah berada di bawah rata-rata pasar global.

Seong mengharapkan teknologi AI memiliki dampak yang sangat signifikan dalam penjualan dan pemasaran sehingga bisa meningkatkan belanja konsumen.

Seong memperkirakan AI akan menghasilkan pengembalian yang signifikan untuk rantai suplai dan bisnis manufaktur.

Laporan dari McKinsey menjelaskan, AI kemungkinan akan dapat mempengaruhi ekonomi melalui berbagai saluran, termasuk membantu atau menambah tenaga manusia, memperluas produk dan layanan yang tersedia, menggantikannya, meningkatkan aliran data global dan menciptakan kekayaan.

Kecerdasan Buatan Picu Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Dunia

Akan tetapi, laporan tersebut mencatat, implementasi teknologi AI, kemungkinan akan menimbulkan berbagai biaya restrukturisasi perusahaan dan sosial, serta mengganggu pekerjaan dan mengurangi konsumsi.

“Peningkatan produktivitas, teknologi hemat tenaga kerja merupakan masalah yang menantang bagi semua ekonomi di dunia. Teknologi seperti AI kemungkinan akan menyebabkan ketimpangan pendapatan yang lebih besar,” ujar Takashi Miwa, Kepala Ekonomi Jepang di Nomura.

Sebuah analisis McKinsey juga menemukan, negara-negara yang memantapkan diri sebagai pemimpin teknologi AI kebanyakan berasal dari negara maju yang bisa menangkap 20 hingga 25 persen lebih banyak dalam pemanfaat ekonomi. Negara-negara berkembang mungkin hanya mendapatkan setengah dari itu. (RH)