Pemerintah Rusia saat ini sedang mencoba berbagai cara untuk memblokir salah satu layanan online tanpa memengaruhi layanan lain, setelah bulan April kemarin mereka gagal memblokir layanan Telegram di negaranya.

Saat itu, pemblokiran Telegram secara tidak sengaja menghalangi penggunanya untuk mengakses sejumlah layanan online lainnya, seperti aplikasi yang mengontrol kamera video Xiaomi dan aplikasi berbasis Cloud untuk mobil Volvo.

Dilansir dari Reuters, Persoalan ini membuat pemblokiran Telegram harus tertunda dan hingga saat ini para pengguna di Rusia masih bisa mengakses layanan ini.

Pada 6 Agustus kemarin, badan pengawas komunikasi pemerintah Rusia, Roskomnadzor dan badan keamanan FSB, mulai menguji coba sistem yang memungkinkan pemblokiran terhadap satu layanan online saja.

Percobaan pemblokiran Telegram pada bulan April lalu menargetkan alamat-alamat IP yang dioperasikan oleh Amazon, Google, dan sejumlah perusahaan lain yang menampung trafik Telegram.

Masalahnya adalah alamat-alamat IP tersebut biasanya juga menampung trafik milik beberapa layanan online lainnya.

Sistem pemblokiran yang saat ini sedang diuji coba, menggunakan sebuah teknologi yang bernama Deep Packet Inspection yang beroperasi dengan cara yang lebih detail, yaitu menganalisis trafik, mengidentifikasi data dari sebuah layanan, dan memblokirnya.

Menurut sebuah dokumen yang diperoleh Reuters, ada sembilan perusahaan teknologi Rusia yang diminta untuk memberikan teknologi Deep Packet Inspection mereka untuk diuji coba.

Sumber yang dekat dengan Roskomnadzor dan salah satu seorang pimpinan perusahaan yang diminta untuk berpartisipasi dalam hal ini menyebutkan, hal tersebut bertujuan untuk memilih teknologi yang efektif, memperbaikinya jika diperlukan, kemudian menginstalasinya di jaringan milik seluruh operator yang ada di Rusia.

Tetapi, dua orang pimpinan perusahaan ini mengatakan, bahwa percobaan tersebut tidak berhasil karena sejumlah layanan lain yang masih terkena dampak pemblokiran.

“Sejauh ini belum ada yang berhasil lolos dari percobaan tersebut,” ujar salah satu dari mereka.

Sebelumnya, aplikasi yang dikembangkan oleh Pavel Durov tersebut memang sempat ditangguhkan di Rusia, karena mereka menolak untuk memberikan akses terhadap pesan-pesan penggunanya yang dienkripsi kepada petugas keamanan. (RH)