Brand Tiongkok Makin Getol Merangsek Pasar

Stigma negatif nampaknya masih melekat dalam smartphone pabrikan Tiongkok. Beberapa orang menganggapnya murah dan spesifkasinya nggak bagus.

0
480

Stigma negatif nampaknya masih melekat dalam smartphone pabrikan Tiongkok. Beberapa orang menganggapnya murah dan spesifkasinya nggak bagus.

“Embel-embel ‘Made in China’ sudah telanjur diberi label miring oleh masyarakat,” kata Liones Obadia selaku profesor Antropologi di University Lyon.

Narasi itu tersemat dalam papernya berjudul “Made in China Political and Cultural Valuation of Brand Images, Trade and Commodities” (2009).

Namun, Manajer Brand Vivo Indonesia bernama Edy Kusuma berspekulasi kalau stigma negatif tersebut perlahan hilang. “Kini stigma itu sudah tidak ada lagi sejak 2014, khususnya di Indonesia,” katanya.

Meski begitu memang agak sukar mendapat pembuktian pernyataan Edy. Barangkali Data International Data Corporation (IDC) dapat sedikit memberi pencerahan terkait laporannya.

IDC memiliki data tentang rentetan smartphone pada kuartal I-2018 secara global. Disebutkan dari lima besar produsen perangkat cerdas, tiga diantara adalah pabrikan China.

Ketiganya yakni Huawei, OPPO, dan Xiaomi yang laris di pasaran sebanyak 91,2 juta unit. Angka itu merupakan gabungan dari trio produsen tersebut.

Selain itu, Samsung terbukti yang bertengger di puncak. Terhitung dalam laporan yang dimuat IDC, sebanyak 78,2 juta unit smartphone Samsung laku di pasaran.

Sementara Apple berada di bawah Samsung atau posisi kedua. Perusahaan asal Amerika itu terhitung 80,1 juta unit perangkat cerdasnya yang laris.

Pasti Kamu bertanya-tanya kemana Vivo? Ya, padahal merek Tiongkok satu ini menjadi sponsor Piala Dunia di Russia 2018.

Faktanya Vivo telah terbuang dari daftar lima besar. Wajar jika hal tersebut menjadi pertanyaan besar kenapa bisa seperti itu.

Kendati demikian, kini Xiaomi telah berhasil membuat cap ‘Made in China’ mulai diperhitungkan. Anggapan masyarakat sekarang mulai berubah seiring berjalannya waktu. (MRH)